Home Islampedia Macam Puasa Wajib: Pengertian, Niat, Waktu dan Syaratnya

Macam Puasa Wajib: Pengertian, Niat, Waktu dan Syaratnya

32
0

Umat muslim pasti tidak asing dengan kegiatan berpuasa. Berpuasa menjadi salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT supaya kita dapat memperoleh ridho dari-Nya. Kegiatan berpuasa meliputi adanya puasa wajib dan puasa sunnah.

Untuk puasa wajib, apa saja ya jenisnya? Lalu bagaimana bacaan niat supaya puasa kita tersebut diterima oleh Allah SWT?

Yuk, kita simak~Macam-Macam Puasa Wajib1. Puasa Ramadhana. Pengertian Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan puasa wajib yang dilakukan selama satu bulan penuh dalam satu kali setahun. Puasa Ramadhan menjadi rukun iman yang ketiga. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang dipenuhi oleh keberkahan dan ampunan Allah SWT.

Selain itu, dalam bulan Ramadhan juga terdapat malam yang mempunyai kemuliaan lebih dari seribu bulan sekalipun yakni Lailatul Qadar. Pada malam Lailatul Qadar kita sebagai umat muslim dianjurkan untuk beribadah dan memohon ampunan kepada-Nya supaya mendapatkan rahmat-Nya.

Allah SWT mewajibkan puasa Ramadhan untuk pertama kalinya saat tahun kedua Hijriyah. Pada saat itu, Rasulullah SAW baru menerima perintah dari-Nya untuk memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Palestina) ke arah Masjidil Haram di Makkah. Kemudian Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Lalu, Rasulullah SAW bersabda mengenai kewajiban puasa Ramadhan tersebut.

“Dari Abu Abdurrahman bin Umar bin Khattab Radiyallahu’anhuna berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu ditegakkan atas lima dasar, yaitu: (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang (patut disembah) kecuali Allah, dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW itu utusan Allah, (2) mendirikan salat lima waktu, (3) membayar zakat, (4) mengerjakan haji ke Baitullah, dan (5) berpuasa pada bulan Ramadhan. (HR At-Tirmidzi dan Muslim)b. Bacaan Niat Puasa Ramadhan

Sama halnya saat mengerjakan sesuatu, kita pasti membutuhkan niat yang berasal dari hati. Maka dari itu, dalam puasa Ramadhan juga dibutuhkan niat yang dibacakan ikhlas dari hati. Niat puasa Ramadhan ini menjadi suatu bukti penegasan kita terhadap kesungguhan hati untuk menjalankan ibadah tersebut.

Terdapat dalil yang mengemukakan mengenai niat puasa. Yakni : “Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu Hajar, maka ita tidak berpuasa,” (Hadist Shahih riwayat Abu Dadu: 2008, Al-Tirmidzi: 662, dan al-Nasa’i: 2293)

Lalu, bagaimana niat puasa Ramadhan yang harus dilafalkan setelah kegiatan sahur. Yakni berbunyi:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

c. Waktu Pelaksanaan Puasa Ramadhan

Dalam puasa Ramadhan, waktu pelaksanaannya yakni dimulai ketika matahari terbit hingga terbenam, selama bulan Ramadhan.

Menurut Al Mawardi dalam kitab Iqna’, terdapat dua pembagian fajar dalam waktu pelaksanaan puasa Ramadhan. Yakni Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq.

Hal tersebut didukung oleh sabda Rasulullah SAW (dari Ibnu Abbas RA), yang berbunyi: “Fajar itu ada dua, yang pertama tidak mengharamkan makan (bagi yang puasa), tidak halal salat ketika itu. Yang kedua mengharamkan makan dan telah dibolehkan salat ketika terbit fajar tersebut”.

Berdasarkan sabda tersebut dapat disimpulkan bahwa saat Fajar Kadzib muncul, kita yang hendak menjalankan puasa Ramadhan tidak diperbolehkan salat subuh dan masih boleh makan & minum. Sedangkan saat Fajar Shadiq muncul, kita sudah diperbolehkan salat subuh dan diharamkan untuk makan minum.

Lalu, bagaimana jika saat kita tengah makan dan minum, kemudian mendengar adzan yang menandakan Fajar Shadiq sudah muncul?

Menurut sabda dari Rasulullah yakni “Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya.”

Jadi, dari sabda Rasulullah SAW tersebut menyimpulkan bahwa ketika kita tengah makan dan minum (saat sahur), kemudian mendengar adzan adanya Fajar Shadiq, kita dianjurkan untuk meneruskan makan dan minum tersebut hingga habis. Amalan selama Bulan RamadhanSalat tarawih, merupakan salah satu salat sunah yang hanya dapat dilaksanakan saat bulan Ramadhan saja.Salat witir dan salat sunnah lainBersedekah kepada yang membutuhkan, misalnya mengajak buka bersamaTadarrus, yakni membaca kitab suci Al-Quran selepas shalat tarawihI’ktikaf di masjid2. Puasa Kafarat

Apa itu puasa kafarat? Mengapa disebut sebagai puasa wajib juga?

a. Pengertian Puasa Kafarat

Puasa kafarat merupakan puasa yang wajib dilakukan untuk “mengganti” puasa Ramadhan yang “rusak”. Puasa ini wajib dijalankan apalagi bagi mereka yang “merusak” puasa Ramadhan karena melakukan hubungan seksual.

b. Jenis Puasa Kafarat & Waktu Pelaksanaannya

Ada beberapa jenis puasa kafarat dan penyebabnya, yakni

1) Puasa kafarat yang disebabkan karena melanggar larangan haji.

Puasa ini dilaksanakan dengan cara tamattu’ atau qiran yang mewajibkan membayar denda puasa dengan menyembelih seekor kambing atau domba.

Namun, apabila tidak mampu, bisa diganti dengan berpuasa selama tiga hari ketika masih berada di tanah suci Mekah; dan tujuh hari setelah sampai di tanah kelahirannya.

2) Puasa kafarat yang disebabkan karena melanggar sumpah atau janji.

Puasa ini dilaksanakan apabila seseorang telah berjanji untuk melakukan sesuatu tetapi dia tidak bisa memenuhinya, maka wajib baginya untuk membayar denda dengan berpuasa selama tiga hari. Namun, apabila tidak mampu melaksanakannya, diwajibkannya untuk memberi makan sepuluh orang miskin.

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيۡمَٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum- Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al Maidah: 89)

3) Puasa kafarat karena sumpah zihar

Puasa kafarat ini dilakukan untuk seorang suami yang menyamakan punggung istrinya dengan punggung ibunya. Dalam QS Al-Mujadilah ayat 2 mengemukakan bahwa perkataan suami yang menyerupakan istri sebagai ibunya, adalah hal yang mungkar.

Dalam hal ini, apabila sang suami ingin menebus dosanya, dirinya diwajibkan untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Sesuai dengan firman Allah dalam salah satu surah kitab suci Al-Quran:

وَٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِن نِّسَآئِهِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مِّن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۚ ذَٰلِكُمۡ تُوعَظُونَ بِهِۦۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ذَٰلِكَ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۗ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here